Lima Permainan Asal Bugis Yang Sangat Populer

Bisa dikatakan hampir semua permainan tradisional rakyat Bugis dilakukan setelah panen. Hal ini dikarenakan waktu panen hanya dilakukan setahun sekali. Uuntuk mengisi waktu kosong yang panjang itu, lahirlah berbagai macam permainan yang digemari oleh rakyat..

Game Yang Terkenal Di Eropa Atau Asia Yang Menjadi Pamor

1. Marraga

Bersepak raga atau marraga berasal dari nama peralatan utama permainan, yaitu raga.

Raga adalah sejenis bola yang terbuat dari rotan yang dibelah, dirut atau dicincang halus kemudian dianyam. Umumnya berdiameter sekitar 15 cm.

Salah Satu Cara Bermain Pulsa Tanpa Potongan

Istilah raga berangkat dari tinjauan fungsinya, yaitu siraga-raga yang bermakna saling menghibur. Tidak diperkenankan seorang pemuda untuk menikah jika masih belum pandai marraga.

How Famous Are Slot? There we Are

Masyarakat Bugis sangat kagum kepada orang yang lihai atau ahli memainkan permainan ini. Kebanggan tersebut dapat meningkatkan status sosial seseorang dalam masyarakat Bugis.

Bola Yang Dilempar Ke Meja Dan Ke Tangan Mereka

Pada mulanya permainan ini hanya dilakukan oleh kaum bangsawan Bugis. Dalam perkembangannya, permainan ini sudah dilakukan oleh masyarakat luas.

2. Massaung Manuk

Massaung manuk terdiri dari kata saung yang berarti adu dan manuk yang berarti ayam. Dulunya, permaianan ini menjadi favorit para bangsawan pada umumnya dan dapat  ditonton oleh masyarakat umum.

Berkaitan dengan kepercayaan masyarakat adat, tidak sembarangan ayam yang diadu. Tapi yang dirawat dengan baik, hati-hati dan  telah diberikan mantara atau jampi-jampi.

Menurut cerita rakyat Bugis, pada zaman dahulu manusialah yang disabung oleh raja/bangsawan sebagai hiburan sekaligus untuk mendapatkan Tobarani (berani).

Namun di kemudian hari, permainan itu diganti dengan Ayam karena dianggap terlalu kejam dan merendahkan martabat manusia

Masyarakat adat Bugis percaya bahwa dengan selalu melihat pertengkaran dan darah akan menambah keberanian dan kesaktian.

3. Mappasajang

Berasal dari kata sajang yang artinya melayang atau terbang. Sebagian orang Bugis menyebutnya Malambaru, berasal dari kata Lambbaru yang artinya ikan pari. Penamaan ini berangkat dari adanya kemiripan bentuk peralatan utama dengan ikan pari.

Mappasajang lebih populer dikenal oleh masyarakat luas dengan istilah permainan layang-layang. Dekorasi dan bentuknya bermacam-macam. Masyarakat adat Bugis pada umumnya menggunakan bentuk dan pola binatang bersayap.

Dahulu, layang-layang terbuat dari jenis daun lebar yang telah dikeringkan kemudian diberi tali. Setelah ada kertas, bahan dasar layang-layang mulai digantikan.

4. Mallanca

Berasal dari kata lanca yang berarti menendang dengan menggunakan tulang kering, sasarannya adalah ganca-ganca, yaitu bagian kaki yang berada di atas tumit.

Permainan tradisional ini menjadi salah satu favorit masyarakat adat Bugis dalam rangkaian penyelenggaraan pesta adat.

Kegiatan ini hanya dilakukan oleh masyarakat biasa dan masih berlangsung di beberapa desa terpencil.

Mulanya Mallanca hanya sekedar hiburan bagi kaum bangsawan, yang kemudian digemari oleh masyarakat luas.

5. Mappadendang

Penamaan permainan ini berasal dari kata dendang yang bermakna alunan suara atau irama. Awalnya, mappadendang hanya dilakukan pada malam hari ketika terjadi bulan purnama.

Selain itu, diadakan dalam upacara tertentu, yaitu perkawinan dan panen yang sukses. Mappadendang hanya diperuntukkan kepada anak perempuan dan pemuda.

Permainan didasarkan pada suara alu memukul lesung yang bergantian saat menumbuk padi. Suara tersebut kemudian dikembangkan dengan menambahkan bobot pada irama hentakan alu pada lesung.

Pada fase selanjutnya, permainan dikembangkan lebih lanjut. Alunan irama lebih teratur disertai dengan variasi suara dan gerakan, bahkan diiringi tarian

Kelima Permainan Tradisionalini pernah populer pada masanya, ketika Bugis masih berbentuk kerajaan-kerajaan. Namun, beberapa masyarakat masih tetap melestarikan permainan ini sebagai ajang keseruan pasca panen.